Suasana diskusi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Kamis (22/1/2026). di SD Almadany Kamis (22/1/2026) (Tagar.co/Mahfudz Efendi)
Melalui metode debat santun, siswa kelas VI SD Alam Muhammadiyah Kedanyang, Gresik, dilatih menyampaikan argumen secara logis, berpikir kritis, dan menghargai perbedaan pendapat di kelas.
Kemampuan berpendapat secara logis dan disertai argumen tidak lahir begitu saja. Ia perlu dilatih sejak dini melalui ruang belajar yang memberi kesempatan siswa berpikir kritis, berkomunikasi runtut, sekaligus berani menyampaikan pandangan dengan santun.
Hal itulah yang tampak dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Diserbu Warga, Pasar Panganan Giri Biyen Jilid Kedua Ludes dalam Dua Jam
Pembelajaran itu dipadukan dengan mata pelajaran Pendidikan Pancasila serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan melalui metode debat antarsiswa.
Sebanyak enam kelompok siswa kelas VI, masing-masing beranggotakan 4–5 anak, terlibat aktif dalam praktik menyampaikan argumen pro dan kontra terhadap sejumlah kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saya sebagai guru kelas VI menyiapkan enam topik kasus sebagai bahan debat. Mulai dari persoalan disiplin, tanggung jawab siswa, hingga tradisi sosial-keagamaan di masyarakat.
Baca Juga: Belajar Manisnya Kolaborasi: Siswa SD Almadany Membuat Cup Cake bersama Guest Teacher
Keenam kasus tersebut meliputi siswa yang enggan mengikuti kegiatan bersama teman-temannya, persoalan kewajiban membayar uang kas kelas, penolakan terhadap piket kebersihan, ketidakdisiplinan mengenakan seragam sekolah, hingga sikap kritis terhadap tradisi sedekah desa yang dinilai tidak memiliki landasan ajaran Rasulullah Saw.
“Apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi tokoh-tokoh itu, dan bagaimana tanggapan kelompok lain terhadap jawaban yang disampaikan?” tanya saya saat membuka debat santun di kelas.
Saking antusiasnya berdiskusi, siswa merangsek maju mendekati kelompok yang presentasi dalam kegiatan pembelajaran menyampaikan pendapat dengan argumen di SD Almadany Kamis (22/1/2026) (Tagar.co/Mahfudz Efendi)
Pemilihan kasus dilakukan melalui suit antarketua kelompok. Setiap kelompok diberi waktu berdiskusi untuk memahami inti persoalan (mosi), menentukan posisi afirmasi atau oposisi, menyusun argumen berbasis logika dan bukti, serta menyiapkan sanggahan terhadap pendapat lawan.
“Gunakan etika debat. Sanggah idenya, bukan menyerang pribadi lawan debat,” tegas saya kepada para siswa.
Saat presentasi dimulai, suasana kelas pun hidup. Argumen disampaikan secara runtut dengan bahasa yang terstruktur, disertai intonasi dan gestur yang meyakinkan. Kelompok lain menanggapi dengan beragam sudut pandang, ada yang sependapat dan ada pula yang berlawanan, lengkap dengan alasan yang menyertainya.
Baca Juga: Class Meeting SD Almadany, Ekspresi Bakat dan Sportivitas Siswa
Sesekali suasana menjadi cair oleh komentar spontan siswa yang memancing tawa, namun tidak mengurangi esensi pembelajaran. Antusiasme siswa terlihat jelas ketika perdebatan semakin ramai hingga beberapa siswa di bangku belakang mendekat ke depan kelas agar lebih terlibat dalam diskusi.
Menjelang akhir pelajaran, saya menenangkan suasana kelas. Ia membahas kembali setiap kasus, menekankan pokok persoalan, serta memberikan alternatif solusi yang dapat dipertimbangkan.
Ia juga memberikan apresiasi atas keberanian siswa-siswinya dalam menyampaikan pendapat. “Dengan mengasah kemampuan ini, kalian akan mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi atau debat di kelas, serta menyampaikan ide secara efektif dan percaya diri,” pungkasnya.
Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni
Artikel ini juga di publikasihkan Oleh :
https://tagar.co/belajar-berbeda-pendapat-tanpa-ribut-begini-siswa-sd-almadany-berdebat/