Murid SD Almadany Belajar Proses Pengolahan Sampah di TPA Ngipik
Sebanyak 104 siswa kelas V dan VI SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jawa Timur, mengikuti outing class edukatif ke TPA Ngipik, Selasa (10/2/2026)..

Rombongan murid SD Alam pertama di Gresik tersebut diterima langsung oleh Kepala UPT TPA Ngipik, Purwaningtyas Noor, S.T., M.M., yang akrab disapa Pak Wawan. Ia menyampaikan apresiasi atas kunjungan edukatif ini dan memberikan pesan khusus kepada para siswa yang disebutnya sebagai sobat lingkungan.

“Anak-anak sobat lingkungan, mulai dari rumah dan sekolah, yuk biasakan memilah sampah organik dan anorganik. Dengan langkah kecil ini, kita sudah berkontribusi besar dalam pengelolaan sampah yang lebih baik,” ujarnya.

Baca juga: Murid SD Almadany Panen Telur Asin Hasil Proyek STEM

Kegiatan dilanjutkan dengan tur lapangan bersama staf UPT TPA Ngipik, Baihaqi. Para siswa diajak berkeliling melihat langsung proses pengelolaan sampah, khususnya pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos yang berperan penting dalam mengurangi volume sampah.

Baca Juga:  Empat Siswa SD Almadany Bersinar di ME Confest 2025

Dijelaskan, pengelolaan sampah di TPA Ngipik diawali dengan proses pemilahan. Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan dipisahkan dari sampah anorganik berupa plastik dan logam untuk memudahkan pengolahan lanjutan.

Para murid kemudian diajak mengunjungi rumah kompos untuk melihat proses pembuatan kompos dari daun-daunan. Kompos tersebut bermanfaat menyuburkan tanah dan memperkuat akar tanaman, sekaligus menjadi sarana edukasi penting tentang manfaat memilah sampah organik sejak dari rumah.

Di TPA yang berlokasi di Jalan Prof. Dr. Moh. Yamin, Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ini, para siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai skala pengelolaan sampah.

Setiap hari, TPA Ngipik menampung sekitar 200 ton sampah. Sekitar 10 persen di antaranya diolah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), sementara sampah daun diproses melalui pengomposan. Sisanya dikelola melalui metode controlled landfill.

Metode controlled landfill dilakukan dengan penataan, pemadatan, dan pelapisan sampah menggunakan tanah urug guna mengendalikan emisi gas metana. “Jika sampah hanya ditimbun begitu saja, gas metana bisa keluar dan berpotensi merusak lapisan ozon. Karena itu, pengelolaan dilakukan dengan metode ini,” terang petugas.

Baca Juga:  Mereka yang Dirindukan Rasulullah di Telaga Al-Kausar

Pengelolaan sampah di TPA Ngipik, lanjutnya, telah mengikuti arahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan, dengan penerapan metode sanitary landfill dan controlled landfill. Untuk wilayah Gresik, metode yang digunakan adalah controlled landfill.

Selain itu, TPA Ngipik juga telah menyiapkan mesin mining landfill yang dijadwalkan akan diresmikan pada 22 Februari 2026 oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani.

Sementara itu, air lindi dari timbunan sampah tidak dibuang sembarangan, melainkan diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk kemudian dimanfaatkan kembali menyiram tanaman dan mempercepat proses pengomposan.

Kegiatan outing class di TPA Ngipik ditutup dengan pemberian tanaman hias dan pupuk kompos kepada pihak sekolah. Setiap siswa membawa pulang tanaman dan kompos tersebut sebagai simbol komitmen menjaga lingkungan.

Usai dari TPA Ngipik, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan edukatif ke sejumlah ikon Kota Gresik, di antaranya Gedung Utama PT Petrokimia Gresik, Gedung Wahana Ekspresi Pusponegoro, Gedung Nasional Indonesia, Makam Maulana Malik Ibrahim, Kampung Kemasan, Pelabuhan Gresik, Kantor PLTU Gresik, hingga Gedung Utama PT Semen Gresik.

Baca Juga:  Cilukba SD Almadany: Dari Kelas ke Mini Zoo Belajar Menyayangi Hewan

Melalui outing class ini, SD Almadany menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran kontekstual yang tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk karakter peduli lingkungan sejak usia dini.

Jurnali: Mahfudz Efendi | Penyunting Mohammad Nurfatoni